Silahkan genggam duniamu!
Oleh : Sumartono
Posting ini terinspirasi saat sedang mengikuti pengajian rutin mingguan di masjid dekat rumah.
Malam itu bada Isya gerimis turun rintik-rintik, menambah suasana malam menjadi lebih dingin. Namun demikian sedikit rasa kantuk yang menyerang, tak mengurangi antusiasku untuk terus mendengarkan Ustad Riki yang sedang berceramah.
“Agama tidak melarang umatnya untuk menggenggam dunia, tapi akherat harus tetap di hati!”
Hmm, menggenggan dunia! Apapula maksudnya ya, saya berpikir sejenak sebelum Pak Ustad melanjutkan pengajiannya lebih detail lagi.
Hikmah lain dari film 2012
Oleh : Sumartono
Menonton 2012 sebuah film Amerika yang disutradarai oleh Roland Emmerich, sepertinya sedang mengaca pada negeri sendiri tentang kejadian bencana yang sering melanda negara kita akhir-akhir ini. Kejadian alam yang begitu sering menimpa negeri ini dari Tsunami Aceh yang masih membekas hingga terbaru adalah gempa dahsyat di Padang.
Memang kejadian bencana di negara kita ini belumlah sedahsyat seperti apa yang sudah dilukiskan di film tersebut. Yaitu kepanikan umat manusia akibat rentetan bencana alam yang dapat membawa dunia menuju ambang kehancuran. Mulai dari hujan meteor, robohnya jalan-jalan layang dan gedung-gedung bertingkat, letusan dahsyat gunung berapi, hingga gelombang tsunami yang menelan kota-kota besar di penjuru dunia dan juga menelan pegunungan Himalaya yang begitu tinggi itu.
Bayangkan rekan-rekan, bagaimana jika rentetan kejadian-kejadian itu benar–benar kita alami?
Sebuah Bencana “Untuk Kita Renungkan”
Oleh : Sumartono
Masih membekas dalam ingatan kita saat Rabu 2 September 2009, bangsa kita terhenyak akan tragisnya bencana gempa 7,3 SR yang berpusat di sebelah barat daya Tasikmalaya yang memakan korban dan kerugian material tidak sedikit.
Kini belum genap satu bulan tepatnya juga Rabu 30 September 2009, tanah air tercinta ini dibuat berduka lagi. Yaitu dengan datangnya musibah bencana gempa 7,6 SR yang telah mengguncang Padang - Sumatera Barat dengan korban dan kerugian material yang jauh lebih parah.
Lalu dari kejadian ini, bagaimana kita memetik hikmahnya?

