Hikmah lain dari film 2012
Oleh : Sumartono
Menonton 2012 sebuah film Amerika yang disutradarai oleh Roland Emmerich, sepertinya sedang mengaca pada negeri sendiri tentang kejadian bencana yang sering melanda negara kita akhir-akhir ini. Kejadian alam yang begitu sering menimpa negeri ini dari Tsunami Aceh yang masih membekas hingga terbaru adalah gempa dahsyat di Padang.
Memang kejadian bencana di negara kita ini belumlah sedahsyat seperti apa yang sudah dilukiskan di film tersebut. Yaitu kepanikan umat manusia akibat rentetan bencana alam yang dapat membawa dunia menuju ambang kehancuran. Mulai dari hujan meteor, robohnya jalan-jalan layang dan gedung-gedung bertingkat, letusan dahsyat gunung berapi, hingga gelombang tsunami yang menelan kota-kota besar di penjuru dunia dan juga menelan pegunungan Himalaya yang begitu tinggi itu.
Bayangkan rekan-rekan, bagaimana jika rentetan kejadian-kejadian itu benar–benar kita alami?
Agar blogger amphibi tidak rusak keberadaannya
Oleh : Sumartono
Sudah bukan rahasia lagi, kalau diantara kita termasuk juga saya adalah blogger amphibi. Yaitu blogger yang disamping punya aktivitas di dunia maya, juga punya kesibukan di dunia nyata yang sangat menyita waktunya.
Seperti halnya blogger sejati yang memang waktunya tercurah 100% untuk mengurus blognya, sebenarnya blogger amphibi juga ingin melakukannya seperti itu. Walau rintangan dan cobaan lebih berat, tapi sejujurnya juga ingin tetap eksis di dunia maya. Dan juga ingin dipandang keberadaaannya.
Dua penyebab menjadi pebisnis
Oleh : Sumartono
Bagi para rekan yang kebetulan kuliahnya di Fakultas Ekonomi, entah Jurusan Manajemen ataupun Akutansi. Tentunya di awal-awal kuliah pernah disinggung oleh dosen hal-hal yang menyebabkan mengapa seseorang terjun menjadi pebisnis.
Tapi bagi yang belum pernah mendengarnya atau dari Fakultas lain, so jangan kuatir. Dalam kesempatan posting kali ini saya ingin sharing mengenai penyebab berbisnis. Walau mungkin tidak detail hanya kulitnya saja, namun diharapkan bisa bermanfaat bagi kita semua.
Pahlawan dari sisi pebisnis
Oleh : Sumartono
Mumpung baru lewat sehari bangsa kita memperingati Hari Pahlawan 10 November. Dalam kesempatan ini, rasanya cocok jika posting kali ini bertemakan pahlawan khususnya dari sisi pebisnis.
Seperti yang kita tahu bersama sejak dari SD, bahwa pahlawan adalah orang yang berjasa buat negaranya baik yang telah gugur ataupun tidak gugur dalam membela negaranya waktu jaman perang dahulu. Namun sekarang artinya diperluas, siapapun orangnya dan apapun profesinya asal dia berjasa bagi nusa dan bangsa, pantas disebut pahlawan.
Sebagai pebisnis kalau ingin disebut pahlawan, lantas harus berjasa dulu dong buat negara? Ternyata tidak juga kawan, kita bisa melihatnya dari sisi lain. Artinya ada acuan lain yang membuat pebisnis juga pantas disebut pahlawan.
Tips agar nggak loyo
Oleh : Sumartono
Menindaklanjuti artikel sebelumnya, Mas Zams dalam komentarnya meminta, “Bagaimana membuat semangat bekerja agar nggak loyo?”
Jangan kuatir rekan-rekan, saya tidak menjawab lagi untuk minum STMJ + ginseng..he..he.. Sebab jawaban tersebut akan menguras kantong kita apalagi jika minumnya tiap hari, ya gak?
Adapun tips yang akan saya jabarkan ini sengaja hanya dua, namun diharapkan cukup efektif. Karena memang saya sering mempraktekannya di saat lagi malas atau loyo untuk beraktifitas. Adapun tips tersebut adalah sebagai berikut :
Memotivasi sebagai sifat dasar
Oleh : Sumartono
Sebagai pebisnis ataupun karyawan yang kebetulan punya bawahan dalam menjalankan aktivitas pekerjaannya. Tentunya bisa atau tidak bisa, kita harus punya sifat memotivasi khususnya terhadap karyawan atau bawahan. Jadi bisa dikatakan kalau ingin usaha kita berkembang atau karier kita pesat, janganlah takut untuk menjadi motivator walaupun dalam skala kecil terhadap anak buah saja.
Kalau memang kita bukan motivator professional apalagi motivator ulung, lalu bagaimana bisa memotivasi bawahan? Yang memang tujuan akhirnya adalah demi kemajuan perusahaan?
Mengabadikan Top Komentator
Oleh : Sumartono
Sering kita mendengar pepatah bahwa sayur tanpa garam akan hambar. Begitu pula dengan situs, bahwa blog tanpa komentar juga hambar. Walaupun pada sebagian orang bilang bahwa hambar juga bukan berarti tidak enak. Ya terserah deh apapun penilaian masing-masing. Karena ini adalah masalah selera jadi tidak bisa disamaratakan.
Yang jelas dalam kesempatan posting kali ini tepatnya mulai bulan November 2009 di saat usia situs ini baru 3 bulan. Saya punya ide akan mengabadikan link rekan-rekan netter khususnya yang telah menjadi Top Komentator.
Apa maksudnya mengabadikan?

