Referensi Mengungkap Rahasia Bisnis (bag. 2)
Oleh : Sumartono
“Sebelum mengadakan bisnis dengan sesorang atau bangsa lain, sebaiknya pelajari hal-hal yang berkaitan dengan seseorang atau bangsa tersebut.”
Dalam review bagian pertama telah dibahas “bagaimana Jepang bisa menjadi nomor satu” yaitu intinya berkat kesungguhan, disiplin dan kerja keras dalam segala hal. Maka itu dalam posting kali ini, saya akan mereview pada sub judul berikutnya :
2. Mengelola bisnis cara Jepang
Jepang adalah bangsa yang unik dengan sikapnya yang selalu etnosentrisme, yaitu menganggap golongan ataupun kebudayaan bangsanya lebih unggul dibanding bangsa lain. Baginya budaya dan tradisi menjadi lambang identitas dan mereka sangat bangga dengan hal itu.
Lalu bagaimana cara mereka mengelola bisnis sehingga bisa lebih unggul dibanding bangsa lain?
Referensi Mengungkap Rahasia Bisnis (bag. 1)
“Mereka yang pernah mendaki Gunung Fuji, layak disebut orang bijak. Namun mereka yang mendaki untuk kedua kalinya, layak disebut orang bodoh.”
Ketika membaca buku “Rahasia Bisnis Orang Jepang” karangan Ann Wan Seng yang diterbitkan oleh Hikmah, PT. Mizan Publika. Ada hal yang menarik khususnya mengenai rahasia bisnis dari bangsa Jepang.
Buku tersebut yang terdiri 7 Bab setebal 301 halaman tentunya sangat banyak jika saya review dalam blog saya ini. Namun demikian ada 2 poin yang saya pikir sangat penting, sehingga saya menulisnya cukup 2 bagian saja. Dan saya harapkan semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya yang sedang belajar berbinis baik bisnis online ataupun offline.
Menyikapi 90% pintu rezeki adalah perniagaan
Oleh : Sumartono
Jauh di masa lalu sebelum Robert Kiyosaki menulis dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, mengenai ulasannya secara implisit yang mengatakan bahwa yang bisa kaya itu kalau bukan business owner ya investor alias pedagang. Sebenarnya sekitar pada tahun 600 Masehi, Rasulullah sudah mengajarkan “bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah perdagangan” atau dengan kata lain yang menguasai 90% pintu rezeki itu adalah para pebisnis.
Jadi bagi yang kebetulan adalah karyawan, atlit atau profesi lainnya yang bukan pebisnis maka hanya mendapatkan pintu rezeki yang tinggal 10% saja. Sepertinya susah ya peluangnya untuk menyamai rezekinya dengan para pebisnis tersebut.
Memaksimalkan Peran Bargaining Power
Oleh : Sumartono
Apapun profesi kita baik sebagai pebisnis ataupun karyawan, tentunya sepakat jangan melupakan yang satu ini. Yaitu memaksimalkan peran bargaining power (daya tawar) demi menunjang perkembangan profesi kita tersebut.
Bergaining power atau kemampuan yang kita miliki baik yang datang secara alami karena lingkungan ataupun yang kita gali lewat belajar formal ataupun informal, memang sangat penting. Makanya tidak heran jika kita sering jumpai di masyarakat banyak fakta, kok bisa ya seorang sarjana teknik sipil sukses dalam bisnis internet. Kok bisa ya seorang sarjana ekonomi sebagai project manager di proyek?
Kok bisa ya hanya lulusan SD menjadi pengusaha yang sangat sukses? Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian “kok” lainnya yang menurut kita impossible. Ya, itu semua bisa terjadi karena orang-orang tersebut itu telah memaksimalkan peran bargaining powernya agar lebih maksimal lagi.

Oleh : Sumartono
